Manchester City menutup era Pep Guardiola dengan kekalahan mengecewakan. Di Etihad Stadium, The Citizens takluk 1-2 dari Aston Villa dalam laga penutup Premier League musim 2025/26 yang penuh dramatika dan gol-gol cepat. Laga perpisahan sang taktikus legendaris berakhir kelam, dengan Ollie Watkins menjadi dalang kehancuran City melalui dua gol mematikan di babak kedua.
Pertandingan bermula dengan Manchester City sepenuhnya menguasai jalannya laga. Dengan penguasaan bola mencapai 95 persen, The Citizens merasa nyaman mengontrol permainan sejak lini belakang. Menit ke-23, dominasi tersebut akhirnya dikonversi menjadi gol. Antoine Semenyo berhasil menembus pertahanan Villa dan menutup babak pertama dengan skor 1-0 untuk City. Hingga istirahat, The Citizens melanglang dengan kepercayaan penuh, sementara Villa terlihat pasif dan sulit menembus pertahanan yang rapi.

Namun segalanya berubah drastis di babak kedua. Hanya dua menit usai istirahat, menit ke-47, Ollie Watkins segera menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Kali ini pertahanan City terlihat terkesendat, dan striker Aston Villa memanfaatkan peluang itu dengan sempurna. Momentum berbalik total mendekati Watkins dan rekan-rekannya. Tepat 14 menit kemudian, di menit 61, Watkins kembali mengoyak jala gawang City untuk membuat skor berubah menjadi 1-2 untuk Aston Villa. Dua gol dalam waktu singkat membuat City harus kejar-kejaran, namun antisipasi Villa yang solid membuatnya sulit untuk menyamakan kedudukan kembali.
Pelatih City berusaha mengubah permainan dengan melakukan serangkaian substitusi. Rayan Cherki dan Mateo Kovacic dimasukkan di menit 58-59 untuk menambah tenaga di lini tengah, sementara di fase lanjutan Jérémy Doku dan Rayan Aït-Nouri turut diturunkan untuk menciptakan dinamika baru. Namun usaha-usaha tersebut terbentur pertahanan Villa yang solid dan Tim Maguire seperti benteng yang kokoh. Menit ke-63, sebuah drama VAR menyita perhatian ketika Phil Foden dianggap telah mencetak gol, namun keputusan lapangan tetap berlaku. Kemudian di menit 90+2, gol yang dianggap telah disah oleh Foden justru dibatalkan setelah review VAR menunjukkan posisi offsidenya. Drama dramatis ini menambah kesedihan hari terakhir Guardiola di Etihad.
Aston Villa tampil tanpa takut meski menjadi tamu. Dengan pola bertahan yang ketat dan transisi cepat, Tim Unggul berhasil memanfaatkan setiap peluang yang diberikan oleh kelemahan City di babak kedua. Watkins memang menjadi bintang cerah pertandingan ini dengan rating 9.3 sehingga dinobatkan sebagai pemain terbaik (MOTM). Selain mencetak dua gol dari tiga tembakan yang dilakukan, striker berbakat itu menjalankan 99 menit penuh dengan performa apik. Emiliano Buendía juga berkontribusi baik dengan rating 7.6, sementara Youri Tielemans yang baru masuk di menit 73 langsung memberikan dampak signifikan dengan rating 7.5.

Statistik pertandingan menunjukkan dominasi City yang belum mampu dikonversi menjadi tiga poin. The Citizens melakukan 16 tembakan dengan hanya 3 tepat sasaran, menguasai bola 95 persen dari seluruh durasi pertandingan, dan mencuri 9 tendangan sudut. Sebaliknya, Aston Villa lebih efisien dengan 12 tembakan namun 5 di antaranya tepat sasaran, penguasaan hanya 53 persen, tapi mencuri poin berharga. Satu kartu kuning diberikan kepada Rico Lewis (Manchester City) di menit 82 karena pelanggaran, sementara Villa bermain tanpa nama pemain yang terkena kartu dalam pertandingan ini.
Kekalahan ini menandai akhir era dramatis Pep Guardiola di Manchester City setelah bertahun-tahun membangun dinasti di Etihad Stadium. Menurut laporan Goal.com dan Detik Sport, pelatih Spanyol itu meninggalkan klub dalam keadaan miris, menutup perjalanan legendaris dengan kekalahan di hadapan suportnya sendiri. Sementara itu, Aston Villa keluar sebagai pemenang dan terus memantapkan posisinya di klasemen Premier League musim ini. Kesuksesan ini membuka peluang lebih lebar bagi Villa untuk mengamankan tiket ke kompetisi Eropa musim depan, seperti diulas oleh Opsi.id. Watkins dan skuadnya membuktikan bahwa pertandingan terakhir Guardiola bukan laga yang akan dikenang City dengan kebanggaan, tetapi bagi Villa momen emas untuk memulai perjalanan baru di panggung internasional.