Sunderland menutup musim Liga Inggris 2025/2026 dengan hasil manis, mengalahkan Chelsea 2-1 di Stadium of Light pada Minggu, 24 Mei 2026. Kekalahan The Blues di pekan terakhir ini memastikan mereka absen dari kompetisi Eropa musim depan, sementara Sunderland mengamankan posisi ketujuh dan tiket Liga Europa dengan performa mengagumkan.
Tuan rumah memulai pertandingan dengan sikap agresif. Menit ke-25, Trai Hume membuka keunggulan Sunderland dengan sundulan yang sempurna, memberikan tim Russell Martin keuntungan 1-0. Saat pertandingan berjalan menjelang istirahat, intensitas meningkat dengan beberapa pelanggaran di lapangan. Menit ke-42, Nilson Angulo menerima kartu kuning atas foulnya terhadap pemain Chelsea, memberi tanda laga ini akan menjadi duel sengit fisik.

Babak kedua dimulai dengan keberuntungan besar bagi Sunderland. Menit ke-50, Malo Gusto secara tidak sengaja memasukkan bola ke gawang sendiri, memperlebar keunggulan Sunderland menjadi 2-0. Insiden ini mengubah dinamika pertandingan dan meningkatkan frustrasi Chelsea. Namun, respons The Blues tidak lama datang. Menit ke-56, Cole Palmer menyambut umpan Pedro Neto dari sisi kanan dan menjebol gawang Sunderland, membuat skor menjadi 2-1 dan menghidupkan harapan comeback.
Pertandingan semakin panas setelah gol Palmer. Menit ke-54, Wesley Fofana menerima kartu kuning, dan dua menit kemudian—menit ke-62—pertahanan Chelsea semakin terdesak saat Fofana mendapat kartu merah atas pelanggaran keduanya. Dengan sepuluh pemain, Chelsea harus bermain bertahan defensif. Sunderland melakukan perubahan untuk mengamankan keuntungan: Habib Diarra dan Wilson Isidor masuk menggantikan pemain di pertengahan lapangan (menit ke-61). Chelsea juga melakukan substitusi ganda menit ke-85 dengan memasukkan Liam Delap dan Josh Acheampong, mencoba menciptakan peluang di menit-menit akhir.
Laga berakhir dengan pertahandingan yang meninggalkan jejak kartu merah dan kuning berserakan. Total 9 kartu kuning diberikan—5 untuk Sunderland dan 4 untuk Chelsea—mencerminkan intensitas duel sepanjang 90+ menit. Granit Xhaka (Sunderland, rating 7.6) dan Enzo Fernández (Chelsea, rating tidak disebutkan) menjadi pemain bertahan yang konsisten meski laga penuh tantangan fisik. Namun, bintang pertandingan adalah Trai Hume dengan rating 8.2, yang tidak hanya mencetak gol pembuka tetapi juga mempertahankan fokus penuh di pertahanan sayap.

Statistik pertandingan menunjukkan Chelsea mendominasi dengan 87% penguasaan bola dan 21 tembakan (6 tepat sasaran), namun Sunderland menerjemahkan kesempatan mereka menjadi gol. Tuan rumah hanya menarik 8 tembakan dengan 3 tepat sasaran, tetapi ketajaman finishing mereka—terutama dari Hume dan bunuh diri Gusto—membuahkan hasil. Menurut Bola.com, Chelsea dijagokan meraih tiket Eropa menjelang pertandingan ini, tetapi buruknya konsistensi sepanjang musim membuat mereka tertinggal dari zona top-4.
Dengan hasil ini, Sunderland menutup musim di posisi ketujuh dengan angka yang memastikan mereka di Liga Europa musim depan—pencapaian luar biasa mengingat klub ini bermain di League One (tier 3 Inggris) empat tahun lalu. Sebaliknya, Chelsea finis di posisi ke-10 dengan 52 poin, kemenangan pertama mereka di beberapa pekan terakhir tidak cukup untuk mengejar zona Eropa. Pelatih sementara Chelsea Callum McFarlane mengakui dalam statement setelah pertandingan bahwa kurangnya konsistensi musim ini menjadi penghambat utama gagalnya target mereka—seperti dilaporkan Antara News.