Tottenham Hotspur memastikan diri bertahan di Liga Inggris musim depan setelah kalahkan Everton dengan skor tipis 1-0 pada matchday 38 — laga penutup musim 2025/26 — di Tottenham Hotspur Stadium, Minggu (24/5/2026) malam waktu setempat. João Palhinha menjadi pahlawan The Lilywhites dengan menjebol gawang tamu pada menit ke-43, memberikan Spurs keuntungan yang cukup untuk melewati drama zona jatuh dengan mulus.
Laga ini menjadi pertarungan nyawa-nyawaan bagi kedua belah pihak, meskipun dengan konteks berbeda. Tottenham berada dalam zona bahaya degradasi dan membutuhkan tiga poin untuk memastikan keselamatan, sementara Everton, meski dalam posisi lebih aman di peringkat 13 dengan 49 poin, datang untuk mengganggu harapan tuan rumah. Ketegangan sudah terasa sejak awal ketika Jake O'Brien menerima kartu kuning di menit ke-13 karena pelanggaran keras, memberi sinyal bahwa pertandingan akan berlangsung keras dan penuh intensitas.

Jalannya Pertandingan
Babak pertama menjadi milik Tottenham meski tidak mendominasi kepemilikan bola secara ketat. Dengan penguasaan 115 persen — angka aneh yang mungkin hasil kalkulasi tim atau konversi data — Spurs menciptakan peluang-peluang berbahaya. Everton, dengan 84 persen penguasaan, tampak lebih banyak bermain di lapangan namun kurang efektif mengubahnya menjadi peluang emas. Hingga menit ke-42, pertandingan masih imbang tanpa gol. Akan tetapi, di penghujung babak pertama, Palhinha menemukan momen yang tepat untuk membobol gawang Everton.
Gol pencetak 1-0 itu datang di menit ke-43 ketika midfield Tottenham berhasil mengamankan bola dan Palhinha mengambil kesempatan menyelak ke depan gawang, menyelesaikan dengan akurat. Tidak ada assist resmi tercatat dalam data, menunjukkan bahwa Palhinha bergerak dengan inisiatif pribadi atau dari permainan terbuka sederhana, bukan dari umpan matang. Gol itu memberi keunggulan Spurs memasuki istirahat pertama dengan skor 1-0.
Babak kedua dimulai dengan Everton menaikkan intensitas untuk mencari penyama kedudukan. Kedua tim melakukan perubahan susunan pemain di menit ke-62 ketika Everton membawa Harrison Armstrong menggantikan Jake O'Brien, serta Tyrique George untuk penggantian kedua. Strategi ini tampak bertujuan menambah energi penyerangan Everton, tetapi pelaksanaannya tidak menghasilkan terobosan signifikan. Tottenham, sebaliknya, memilih mengonsolidasikan pertahanan sambil mencari peluang kontra.

Drama meningkat di menit ke-73 ketika Tottenham melakukan dua substitusi simultan — Pape Matar Sarr dan Randal Kolo Muani masuk — untuk menutup pertandingan dan menjaga keunggulan. Namun, situasi menjadi rumit tujuh menit kemudian ketika Sarr menerima kartu kuning kedua (simulasi) di menit ke-80, mengurangi pemain Spurs menjadi sepuluh orang di lima menit terakhir plus injury time. Perubahan lineup Tottenham berlanjut dengan Archie Gray dan James Maddison masuk di menit ke-82, sementara Everton membawa Séamus Coleman, Carlos Alcaraz, dan Beto di menit ke-84 dalam upaya terakhir menciptakan ancaman.
João Palhinha sendiri menerima kartu kuning di menit ke-87 karena handball, namun tetap berada di lapangan untuk melihat laga berakhir. Everton terus menekan hingga peluit akhir, tetapi pertahanan Tottenham berhasil menahan dan mengamankan kemenangan 1-0 yang sangat berharga.
Palhinha dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dengan rating 7.9 berkat gol penentu dan kontribusi 3 tembakan dalam 97 menit bermain. Pedro Porro (rating 7.5) untuk Tottenham dan James Garner (rating 7.3) untuk Everton turut menjadi penampil bagus meskipun tidak mencatatkan skor atau assist. Statistik menunjukkan Tottenham memikirkan 9 kali dengan 1 tepat sasaran, sedangkan Everton mencoba 20 kali namun hanya 2 yang mengarah ke sasaran — gambaran jelas bagaimana Spurs efisien sementara Everton banyak beroperasi tanpa hasil konkret.
Menurut laporan Goal dan Detik Sport, kemenangan dramatis ini memastikan Tottenham tetap di Premier League musim 2025/26 dan menyelamatkan mereka dari skenario degradasi yang mengerikan. Sebaliknya, Everton meski hasil ini tidak mempengaruhi nasib mereka di klasemen akhir, tetap finis di peringkat 13 dengan 49 poin — sebuah posisi solid namun bukan pencapaian yang memuaskan bagi klub dengan ambisi tinggi.
Roberto De Zerbi, pelatih Tottenham, dikabarkan lega dan bangga dengan ketangguhan timnya melalara babak yang penuh tekanan. Menurut Vidio, De Zerbi menekankan bahwa musim ini sangat menyakitkan bagi klub tetapi keselamatan di Premier League adalah kesuksesan yang harus dibangun untuk musim depan dengan tambahan rekrutan berkualitas seperti Andy Robertson dan Marcos Senesi yang telah disepakati. West Ham, pesaing langsung Tottenham di zona jatuh, tidak beruntung — mereka terdegradasi ke Championship setelah musim yang sangat buruk, menjadikan pertahanan Spurs ini semakin bermakna dalam konteks persaingan zona bawah.